Fakta Unik & Kelam Dibalik Bisnis Anime di Jepang

Sunday, 6 December 2020-19:46 WIB, by Owibu Admin

owibu.com - Anime adalah sebuah film animasi 2D dari Jepang. Dibandingkan dengan film animasi lainnya seperti milik Disney ataupun stuidio animasi terkenal lainnya, Anime memiliki ciri kusus dalam setiap karakter ataupun setting cerita yang ada di dalamnya. Oleh karenanya anime menjadi animasi 2D kusus dari Jepang.

Mungkin kamu sudah mengetahui kalau animator anime di Jepang menerima bayaran yang murah. Tapi tahukah kamu ternyata penderitaan seorang animator tidak hanya sampai di situ saja? Animator memiliki pembayaran di bawah UMR, berada di bawah garis kemiskinan, jam kerja tidak wajar, bahkan sampai tidak tidur. Sudah menjadi sebuah rahasia umum di mana pembuatan sebuah film animasi tersebut amatlah susah dan perlu waktu yang lama untuk membuatnya.

Setiap episode anime selalu bisa tayang tiap minggunya, pasti kamu berpikir seperti apa kerja keras para animator asal Jepang untuk membuat anime ini. Berikut ini adalah fakta unik dalam pembuatan anime yang belum tentu kamu ketahui.

1. Gaji Di Bawah UMR


Pekerjaan animator anime di Jepang jauh dari kata layak, seperti yang pernah dikatakan oleh salah seorang animator asal Amerika yang mencoba bekerja di Jepang sebagai seorang animator di salah satu studio di Jepang. Di studio kecil tempat awalnya bekerja ia mendapatkan bayaran seperti ini:

- 1 Gambar dihargai $1 , sekitar $5 - $25 sehari.

Ketika dia pindah ke kantor yang lebih besar (salah satu studio top),

- 1 Gambar hanya dihargai $2-$4, dengan rata-rata $40 sehari.

Sehingga bisa disimpulkan penghasilan perbulannya kira-kira $1000 (120.000 yen), sementara itu biaya hidup di Tokyo idealnya adalah 1,500,000 yen per tahun. Dengan penghasilan seperti itu tentu saja penghasilan itu sangatlah rendah.

2. Animator Berada Di Bawah Garis Kemiskinan


Melihat fakta dari nomor 1, sudah bisa diketahui bahwa animator berada di bawah garis kemiskinan. Seorang animator di sebuah studio animasi pembuatan anime dapat bekerja hingga 84 jam dalam seminggu dan hanya mampu membawa pulang gaji sebesar 92.500 hingga 235.000 yen tiap bulannya tergantung dari pengalaman sang animator. Lebih parahnya lagi, ada juga animator yang harus membayar kepada studio anmasi hanya agar dirinya bisa bekerja di studio tersebut. Karena hal inilah, tidak sedikit para animator anime yang berada di garis kemiskinan dan tidak mampu hidup secara layak. Dengan tingkat kesulitan inilah, semakin sedikit orang – orang yang mau bekerja sebagai seorang animator di Jepang.

3. Sukses Tidaknya Suatu Anime Tidak Mempengaruhi Kesuksesan Ataupun Kesejahteraan Dari Studio


Jika kamu pernah tahu anime yang dibuat dijual dalam bentuk Blu-Ray, DVD ataupun terdapat merchandise lainnya, perlu kalian ketahui tidak ada sepeserpun dari uang penjualan tersebut yang masuk ke kantong studio pembuat anime. Karenannya, meskipun industri animasi Jepang mengatakan bahwa mereka membuat sebuah rekor penjualan sebesar 220 Triliun Rupiah, uang sebesar itu tak satu pun yang kembali ke tangan studio anime. Uang itu hanya masuk ke perusahaan yang menjadi bagian dari komite produksi dan studio animasi tidak masuk di dalam komite tersebut.

4. Semakin Banyak Animasi Diproduksi Bisa Jadi Bencana Bagi Industri


Demand (permintaan) pembuatan anime tiap waktunya terus meningkat, namun jumlah pekerjanya semakin menipis. Oleh karenanya hampir mustahil untuk sebuah studio anime untuk membuat anime serial sepanjang 26 episode dengan kualitas yang tinggi. Apalagi dengan masuknya berbagai investor asing di dalamnya yang semakin menggenjot pertumbuhan anime. Namun pertumbuhan permintaan produksi anime ini tidak sebanding dengan jumlah animator yang ada. Sedikit sekali orang Jepang yang ingin menjadi seorang animator karena hal tersebut. Karena mereka sudah paham betul tingkat kesejahteraan pegawai seorang animator di Jepang amat lah rendah.

5. Uang Penjualan Merchandise Belum Tentu Masuk Ke Kantong Kreator


Komikus Gintama pernah mengatakan tidak peduli seberapa banyak orang yang menonton film adaptasi komiknya maupun seberapa tinggi pendapatnya. Tidak sepeserpun uang tersebut masuk ke kantong komikus, para komikus hanya dibayar sekali di muka. Yang seperti kacang dibandingkan keuntungan box office yang mayoritas masuk ke kantong perusahaan seperti Shueisha dan Sunrise selaku penerbit dan pemegang lisensi. Satu-satunya cara untuk mendukung para kreator, baik itu komikus ataupun pengarang novel adalah dengan membeli buku terbitannya sehingga mereka tetap dapat menikmati keuntungan.

6. Masa Depan Industri Animasi Jepang Itu Suram


Kekurangan tenaga kerja, bisnis yang semakin cenderung terus menurun. Tidak mengherankan banyak yang berpendapat bahwa masa depan industri ini semakin suram. Osamu Yamasaki, sutradara serial animasi “Hakuoki” percaya bahwa banyak sutradara yang paham betapa berbahaya kondisi ini bagi masa depan industri. Sutradara Neon Genesis Evangelion, Hideako Anno, sempat mengungkapkan pada tahun 2015 silam bahwa menurunnya talenta dan pendanaan akan menjadi ancaman terbesar dalam lima tahun ke depan.

7. Jam kerja Tidak Wajar


Seperti yang kamu ketahui, anime itu munculnya seminggu sekali dan tiap penayangannya biasanya memiliki durasi 20 hingga 24 menit. Kalau kamu pernah membuat sebuah animasi, kebayangkan gimana susahnya para animator ini? Untuk membuat sebuah animasi dengan durasi sekian saja dibutuhkan waktu berminggu – minggu lamanya. Walaupun sudah dibagi ke beberapa orang dalam pengerjaannya, tetap saja untuk membuat sebuah animasi diperlukan waktu yang amat lama. Maka tak jarang untuk memenuhi target pembuatan anime tiap minggu tersebut, para animator haru bekerja lembur tiap harinya. Jam kerja para animator ini pun membengkak bisa sampai 12 hingga 14 jam sehari untuk mengejar penayangan anime.

8. Tidak Tidur


Karena jumlah jam kerjanya saja sudah tidak wajar, para pekerja tak jarang harus tidak tidur demi menyelesaikan sebuah deadline dari pembuatan anime. Meskipun pekerjaan sudah dibagi – bagi, namun tetap saja susah untuk menghasilkan anime tepat waktu dengan kualitas yang tetap bagus pula tentunya. Dengan target yang dibebankan kepada animator, serta dengan adanya demand pembuatan anime yang terus bertambah, membuat para animator semakin harus bekerja keras untuk menyelesaikan hal tersebut yang berakhir dengan adanya jam tidur kurang alias tidak tidur sama sekali untuk membuat anime tersebut.

Mungkin itu saja fakta di balik pembuatan anime, tidak banyak yang diterima oleh seorang animator yang padahal berfungsi sebagai ‘kunci’ adanya anime yang tiap hari kita tonton. Penerima bayaran tertinggi serta popularitas dalam pembuatan anime dipegang oleh seorang seiyuu, dari sanalah lebih banyak orang yang ingin menjadi seiyuu dibandingkan animator.

Penulis dan sumber refrensi: Admin Nara, The Jakarta Post

Kali aja suka